Menamai Tahun: Amnesic Point (1994-1999)

The-5-Lessons-Of-Start-Up

Rabu, 6 Juli 1994. Saya tak pernah mengenal hari itu, tidak juga penasaran ingin mengetahuinya. Hari-hari sepertinya tak pernah berubah di kampung kecil itu, apalagi 22 tahun yang lalu, saat penduduknya masih bisa dihitung jari. Satu-satunya tempat di mana seseorang bisa menyaksikan kerumunan adalah sawah yang terhampar luas di halaman depan kampung. Selalu saja ada orang di sana. Sawah itu adalah pusat peradabannya. Semua aktivitas penduduk terjadi di sekitarnya, di atas jalan kecil yang sekarang sudah ditimpa aspal. Tebakanku, pada hari aku lahir, jalan setapak berlapis batu kapur itu masih sepi seperti biasa.

Beberapa tahun pertama kehidupan kita selalu menjadi misteri. Tak ada yang bisa kita ingat dari tahun-tahun tersebut. Meskipun ada yang bisa diingat, biasanya hanya berbentuk fragmen-fragmen gambar tanpa cap tanggal. Saya menelusuri Wikipedia karena penasaran apa nama amnesia masa kecil itu. Ternyata namanya (surprise!!) childhood amnesia. Saya sendiri mengenal  tersebut hanya dari ceritera orang tua, biasanya ibu saya.

Salah satu fragmen yang saya ingat cukup baik adalah adalah ketika saya berumur 3 atau 4 tahun. Entah bagaimana awal ceritanya. Saat itu, di kamar depan rumah, Ayah mengayunkan badan saya yang masih mungil ke udara, sambil tertawa lepa. Lalu saya yang sangat ketakutan itu memeluk kepala Ayah dan merenggut rambutnya. Saya masih ingat, rambutnya hitam, diselingi beberapa helai yang sudah memutih. Ayah yang (mungkin) kesakitan dijambak oleh putra kecilnya itu lalu melepaskan saya ke kasur dan menggelitiki perut saya dengan kumisnya. Ia lalu bertanya pertanyaan yang paling saya ingat seumur hidup, ‘kalau sudah gede kamu mau jadi apa?’ Saya menengok ke luar jendela dan melihat truk berlalu di seberang jalan sana. ‘Mau jadi supir truk.’ Tanpa pikir panjang. Saya tidak ingat bagaimana ekspresi Ayah mendengar jawaban saya itu. Dia pasti tersenyum bahagia sekali.

Ingatan tersebut tidak berbentuk satu jalan cerita yang utuh, melainkan hanya tersisa sebagai fragmen-fragmen gambar yang terpisah-pisah: gambar kepala ayahku yang botak, gambar truk di luar jendela, gambar kamar tidur masa kecil. Mungkin beberapa fragmen tidak benar-benar terjadi, alias false memory, tetapi ingatan tersebut terasa sangat hidup.

Entah bagaimana, ingatan pertama itu selalu membuat saya sadar kalau kita hidup memang untuk sebuah tujuan tunggal. Seperti laron yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk mencapai cahaya lampu, kemudian mati. Bagi saya versi umur 4 tahun, tujuan itu adalah menjadi sopir truk. Lucu sekali bagaimana bocah berusia 4 tahun lebih tahu tujuan hidupnya daripada pria 22 tahun ini.


Jatimulya, nama kampung itu. Sekarang pojok bumi yang kalau malam lebih ramai (oleh suara jangkrik) daripada siang itu sudah berubah banyak. Dulu, rumah orang tuaku adalah rumah paling mewah di seantero rukun tetangga. Rumah kami sudah berlantaikan keramik di saat kebanyakan rumah lain masih berlantaikan lempung atau panggung beranyaman bambu, yang kalau kau tidur di atasnya, terasa seperti tidur di atas awan karena terangini dari bawah.

Rumah orang tuaku juga sudah sudah mempunyai toilet pribadi di saat tetangga kampung masih menggunakan WC umum. Yang saya maksud WC umum adalah sungai kecil yang merenda tepian sawah dan jalan berkapur tadi. Di sungai itulah semua aktivitas basmi bakteri dilakukan, dari mulai buang hajat sampai ngeusikan beras. Saya tidak bisa menyebutnya jorok. Itu adalah pilihan terbersih yang mereka punya.

Namun sekarang keadaan sudah sedikit banyak berbeda–for good or for worse. lantai-lantai sudah diubini, toilet pribadi sudah banyak dipasang, juga semakin sulit menemukan pisang mengambang di sungai itu. Singkatnya, andai kakek buyutku dibangkitkan lagi dari kuburnya sekarang, dia tidak akan mengenali kampungnya lagi.

Tetapi di balik itu semua, pergulatan ekonomi vs konservasi sedang berperang sengit di sekeliling desa, antara keinginan alam untuk menghijau, dan keinginan pemodal untuk menghitam. Meskipun nampaknya pertarungan itu akan segera berakhir dan kau tahu siapa yang akan menang. Sisa-sisa pertarungan itu bisa kau lihat pada belukar yang sudah kehilangan pohon peneduhnya, air sungai yang menghitam, dan tebing sungai yang terluka dicabik-cabik oleh ekskavator.

Kadang saya marah kalau mengingatnya. Tempat saya bermain lempar pasir, hampir tenggelam karena tidak bisa berenang, dan hampir mati ketakutan karena dikejar-kejar pekebun yang marah karena pepayanya dijarah anak-anak ingusan. Hilang, rusak, seluruh memori saya.

Malu juga sebenarnya, saya mengingat-ingat sampai titik amnesia saya, tidak pernah sedikit pun terbesit untuk menjadi bagian dari kubu ekonomi. Dan sekarang saya di sini, belajar bagaimana mengubah pohon, tanah, dan air menjadi uang. Mungkin tidak lama lagi saya akan bekerja seumur hidup meniup perut para kapitalis tersebut. Menjijikkan. Semoga saja tidak.

Saya bukan orang yang sepenuhnya anti-kapitalisme. ‘Kapitalisme’ dan eksplorasi alam pada tingkat tertentu memang perlu. Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk memanfaatkan alam. Hanya saja kenapa setiap kemajuan bagi manusia harus berarti kemunduran bagi makhluk Bumi lainnya?

Entahlah. Mungkin kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang.

Iklan

5 pemikiran pada “Menamai Tahun: Amnesic Point (1994-1999)

  1. Ternyata ada kubu ekonomi yang ‘tertarik’ dengan elemen ekologi.

    Tidak semua kemajuan manusia mengimplikasikan kemunduran makhluk bumi lainnya. Bisa jadi malah keserakahan manusia yang ingin mengubah segalanya menjadi uang itu membuat alam mengamuk (a.k.a bencana alam). Manusia yang secara fungsional berperan sebagai khalifah di muka bumi harus mampu mengharmoniskan seluruh komponen dunia.

    Andai saja manusia mampu mengalah sedikit saja…

    Maybe that’s why, my lecture never let me (as biologist) to take an ec*nom as my boyfriend 😛

    Suka

Berikan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s