playing_-vinyl1

“The Moving Finger writes: and, having writ,
Moves on: nor all thy Piety nor Wit
Shall lure it back to cancel half a Line,
Nor all thy Tears wash out a Word of it.”

— Umar Khayyam (Rubaiyyat Umar Khayyam)

Misteri

Dunia terasa penuh misteri waktu saya masih kecil. Kadang saya naik ke loteng ruko, memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit.  Otak kecil saya mengira-ngira, mungkin titik-titik kecil itu adalah lubang kecil di langit di mana cahaya dari lampu-lampu surga merembes melaluinya, menerangi dunia di bawahnya. Jika kita pergi cukup jauh ke ujung cakrawala di mana langit bertemu bumi, mungkin kita bisa memanjat menuju surga dari sana. Saya bahkan merencanakan kalau sudah besar nanti, saya akan bertualang menuju ujung bumi, dan menjadi orang pertama yang mencapai surga dari sana. Kalau sampai sebesar saya masih mempercayai hal tersebut, mungkin saya sudah ditangkap atas tuduhan ajaran sesat.

Meskipun masih terkesima ketika memandangi gemintang dan masih terkesiap kala membaca keajaiban-keajaiban alam di luar intuisi inderawi, ketika kita dewasa, kita merasa kemisteriusan dunia menjadi berkurang. Entah karena memang pengetahuan kita yang bertambah, atau karena kita kecewa, karena kita sudah tahu bahwa tidak ada namanya ujung bumi dan bintang ternyata bukan lubang menuju surga, melainkan bola api raksasa sama seperti Matahari. Setiap bintang di atas langit sana adalah matahari bagi venus, bumi, dan mars mereka masing-masing.

Satu dari sekian banyak misteri yang masih mengisi lamunan-lamunan kecil saya adalah tentang esensi dari alam semesta ini sendiri: ruang, waktu, dan realitas.

8 tahun yang lalu, saat masih di Murfal, seperti biasa saya dan teman sepondok sorogan atau menyetor hafalan kepada guru sekaligus pembimbing kobong saya, Mang Rana. Entah sorogan kitab  al-Ajurumiyyah atau Safinatunnaja, saya lupa. Entah bagaimana awalnya, dia menanyakan satu pertanyaan yang filosofis kepada kami,

“Lebih jauh mana, satu detik yang lalu atau 1000 tahun yang akan datang?”

Otak SMP saya yang cuma bisa berpikir linier dan ‘lurus’ tentu saja menjawab “seribu tahun yang akan datang.” Bukannya memang begitu? Ada milyaran detik dalam seribu tahun. Sekitar 31 milyar detik lebih tepatnya. Saya salah, katanya. Pertanyaan Mang Rana tersebut tentu saja bukan dimaksudkan untuk melihat siapa yang bisa mengukur tahun ke detik, melainkan, beliau ingin menekankan kalau masa lalu tidak akan kembali lagi, sependek apapun, dan masa depan pasti akan datang selama apapun kau menunggunya.

Terima kasih, Mang. Pertanyaanmu itu sangat menginspirasi saya selama bertahun-tahun ke depan, tetapi bukan itu yang saya cari dalam konteks ini.

Teori relativitas Einstein sudah cukup untuk menjelaskan bahwa ruang dan waktu yang kita tempati ini subjektif dan relatif. Namun semua teori ilmiah hanya bisa menjelaskan beberapa apa, bagaimana dan kapan, melewatkan segunung apa, bagaimana dan kapan lainnya, serta tak sedikitpun menjawab mengapa.  Ada banyak sekali hal yang saya secara pribadi atau kita sebagai manusia belum pahami.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tulisan ilmiah, filosofis, atau relijius. Hanya tumpahan kata dari anak kecil yang sudah bosan diabaikan terus di kepala ‘orang dewasa’ ini. Anggap saja sebagai karya fiksi anak kecil.

Piringan Hitam

Katanya masa lalu, masa kini, dan masa depan telah ada dan akan selalu ada. Seperti gramofon yang sedang memainkan musik di dalam piringan hitam, tergantung di mana jarumnya ditempatkan, musik yang tertanam di situlah akan dimainkan. Itulah yang kita sebut ‘saat ini’. Musik setelahnya bukan berarti tidak ada, nada-nada tersebut sudah ditulis oleh Sang Pencipta Lagu, hanya saja masih menunggu untuk dimainkan.Dan semua rekaman album kehidupan tersebut sudah tersimpan rapi di dalam piringan-piringan hitam di rak arsip Sang Pencipta Lagu.

Menggelitik memang, kalau memikirkan implikasi dari hal tersebut. Apakah itu berarti sebenarnya kehendak bebas itu ilusi? Jika kehendak bebas memang ilusi, bagaimana bisa kita dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kita?

Sulit sekali untuk dicerna akal yang fana ini. Semua terasa nyata sekali ketika kita membuat keputusan, kita merasa sepenuhnya memiliki hidup kita. Kita, makhluk spasio-temporal yang terkungkung di dalam alam bersumbu tiga ini, yang harus patuh pada rangkaian sebab-akibat yang kita sebut waktu, mungkin tidak akan pernah memahami Rencana Agung ini.

Rencana Agung

[To be continued]

Iklan

Berikan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s