Pemuda itu sudah beberapa waktu menyusuri padang. Sepanjang siang tadi ia menyisiri urat-urat wadi yang telah lama kering. Di sebuah kota di ujung wadi itu, ia berhenti sejenak untuk menjilati cairan di sela-sela perdu yang luput dibakar matahari Sahara. Air di kota pasir itu lebih berharga dari darah. Orang rela menumpahkan darah demi menampi air. Jelas tidak akan diberikan kepada gelandangan seperti dia. Kalaupun diberikan, mesti ditukar dengan satu dua bulan kerja sukarela.

Ia mengernyit, rasanya pahit. Kalau cairan perdu itu memang air, mungkin dia bisa bertahan beberapa jam untuk mencapai kota selanjutnya. Kalau racun, ia akan mati di sini, mungkin lebih baik karena ia akan masuk surga dengan kesabarannya ini. Tapi tentu saja ia diajarkan untuk tidak mengharapkan kematian, semenggoda apapun itu.

Ia merebahkan badan lemahnya di atas tumpukan perdu kering, menatap langit dan gemintang. Ayahnya pernah bercerita kalau bintang adalah jendela kecil di mana malaikat menebarkan hujan, benih, bala dan rezeki bagi manusia. Malaikat-malaikat itu juga kadang kala mengintip untuk melihat siapa makhluk bumi yang mengalami kesusahan namun tetap berdoa kepada Tuhan. Mungkin malaikat-malaikat sedang mengintipnya saat ini, ia bergumam. Mungkin malaikat-malaikat itu sedang mengatur siasat untuk mengeluarkan aku dari hidup yang bedebah ini.

Ia tidak dapat tidur. Ia merengkuh betis, termangu dalam pikiran dalam. Tentang Tujuan. Tentang ke kota mana lagi ia harus berjalan. Rasi-rasi tak memberinya arah, sebab langitnya telah lama mendung oleh kematian seorang gadis. Gadis yang benar dikenalnya.

Ah, ia tidak benar-benar mengenalnya. Hanya pernah melihatnya di balik kelambu kereta manusia. Katanya gadis itu terjun bunuh diri seminggu yang lalu karena alasan yang tidak diketahui. Malang bagi si Pemuda, sekarang ia setengah depresi dan setengah gila karena sang gadis membawa serta setengah nurani dan setengah nalar milik Pemuda itu saat terjun.


Melepaskan rindu seperti melepaskan haru dari biru. Pada mulanya ia merupakan satu bisikan yang halus, kemudian memanggil-manggil nama di hatimu, lalu meninggalkanmu dalam sepi yang menyakiti. Orang-orang bijak di sepanjang perjalanannya berkata, “itu cuma soal waktu. Engkau tidak akan mendapatkan anak ayam kalau memecahkan telurnya duluan.” Kali ini ia turuti, meninggalkan apa yang tersisa lepas. Ia berkemas dan melanjutkan perjalanannya. Mungkin di kota berikutnya  nanti, ia akan menemukan Tujuan dan berhenti menyusuri sisa padang.

Beberapa hasta ia melangkah lututnya mulai gemetar. Beberapa jengkal kemudian pandangannya berubah menjadi putih. Ia merasa kembali terbangun ketika melihat rimbunan perdu perlahan menyebar, bertumbuh menjadi pohonan besar, lalu wadi-wadi yang kering mulai terisi air serta gunungan pasir berubah menjadi karpet hijau sejauh mata memandang. Dari balik awan seseorang dengan sayap tersenyum, “selamat datang, wahai Engkau yang bersabar.” Ah, ternyata yang dijilatnya tadi adalah racun.

Iklan

Berikan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s