Gimana kab|

Facebook, 20 Januari 2017. Kita tidak pernah tahu penyesalan seperti apa yang akan kita alami selama kita hidup. Kebanyakan penyesalan mudah dimengerti karena merupakan konsekuensi serta risiko langsung dari kesalahan atau pilihan yang kita buat. Bolos kuliah, misalnya, atau memilih tinggal jauh dari orang tua. Namun beberapa penyesalan mengalir sangat halus, tidak diketahui dari mana datangnya, hanya kau sadari keberadaannya sebagai dengusan napas saat kau mulai merasakan himpitan temali tipis di lingkar dadamu.

Kawan, aku pikir Tuhan bisa memaklumi kalau aku lelah malam itu. Kuliah beserta semua tetek bengeknya membuatku hanya ingin membaca kelanjutan kasus Ahok dan menertawai meme di 9Gag. Aku pikir Dia akan memaklumi kemalasanku sebagaimana sebelum-sebelumnya sehingga dia bersedia menunda kematianmu barang sehari saja. Apa yang aku pelajari hari itu: ternyata Tuhan tidak pernah bernegosiasi.

Aku melihat namamu di pojok kanan laptop. Seketika aku teringat akan satu mata kuliah yang kamu lewatkan sehingga kamu harus menunda wisuda karenanya, tentang skripsi yang tak kunjung selesai, dan tentang bukumu yang sebentar lagi akan diterbitkan. Aku tahu apa yang akan aku lakukan saat itu, menceramahi kamu agar tidak malas-malasan mengerjakan skripsi, padahal aku sendiri jauh lebih bobrok karena menulis cerpen saja tidak pernah selesai. Kalau saja kamu bisa masuk akun WordPress-ku, di mana draf bertambah tiap minggu, tapi pos yang diterbitkan cuma bertambah tiap tahun. Tapi masa bodoh toh kamu tidak mengetahuinya.

Aku sudah mengetikkan “gimana kab” di panel pesan saat tiba-tiba aku ragu untuk meneruskannya. Maksudku ingin mengetik “gimana kabarmu?’ tapi entah mengapa aku merasa kalau kita tidak benar-benar butuh basa-basi seperti itu. Siapa yang butuh ditanyakan kabarnya? Apakah kalau orang menanyakan kabarku tiba-tiba semua masalahku hilang?

Aku melirik kembali namamu di sana. Titik hijau di samping namamu semakin memperberat jariku untuk mengetik. “Hijau adalah simbol untuk semua hal yang positif, bahagia, dan menyenangkan, begitu juga hidupmu bukan?” “Nanti saja kalau warnanya berubah jadi merah baru aku menanyakan kabarmu.” Lagipula, dihitung dari umur kita sekarang, kita masih punya setengah abad untuk sepuasnya bertukar sekadar hal kecil seperti ‘apa kabar?’ bukan? Kawan, saat itu aku merasa yakin sekali dengan hitunganku tersebut.

Tuhan tenyata juga punya hitung-hitungannya sendiri, dan hasilnya berbeda dengan punyaku. Esoknya aku mencoba kembali menulis pesan apa kabar untukmu. Terkirim. Hanya saja tidak akan pernah kamu baca.

Maafkan aku, Kawan. Aku sok-sokan berargumen denganmu tentang politik, tentang hukum, dan tentang kehidupan, sementara untuk hal sederhana seperti kemungkinan kamu mati besok saja aku masih cacat logika.

Iklan

Berikan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s