Tentang Kuburan

bumi tak pernah membeda-bedakan. seperti ibu yang baik,

diterimanya kembali anak-anaknya yang terkucil dan membusuk, seperti halnya bangkai binatang; pada suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang, atau klerek–sama saja; …

— Sapardi Djoko Damono (Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, 1964)

Kita singkirkan orang-orang mati ke pinggir kota, kita kubur atau kita bakar. Mereka lebih tenang di tempat sepi seperti ini, katanya. Padahal kitalah yang ingin tenang, bukan mereka. Kuburan mengingatkan kita pada kematian, sementara kita tidak benar-benar mengerti apa itu kematian. Belum ada orang mati yang merangkak naik dari kubur dan menceritakan pengalamannya.

Yang kita tahu, kematian itu berarti akhir dari semua rupiah yang kita tumpuk, pertemuan dengan mereka yang tercinta, makanan enak, dan akses Internet. Sementara selama ini dunia hanya mengajarkan kita bagaimana untuk mengais kebahagiaan dari hal-hal fana tersebut. Bagaimana caranya seorang manusia, terhimpit sendirian di dalam Bumi tanpa akses internet, bisa bahagia?


Bumi tak pernah membeda-bedakan. Manusialah yang membeda-bedakan: mausoleum untuk isteri raja, pusara di atas bukit bagi para pandita, dan makam berbalut pualam bagi para saudagar.

Sementara si sudra harus puas dikuburkan di gundukan tanah merah di tengah hutan bambu. Lucu bukan, manusia masih memaksakan keangkuhannya bahkan pada bangkai berbelatung.

Iklan

Berikan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s